Akad dan Kartini
Rasanya riuh sekali dunia ini. Kepala ku
disesakkan dengan informasi-informasi yang memicu nafsu dan rasa. Sesekali
aku ditanya oleh ku, “sampai kapan ku
hidup? Dan kapan ku bermanfaat dalam hidup?”. Masa yang sebentar sekali dunia
ini, katanya. Tapi, ramainya tak terkira. Ramai, ramai, ramai sekali. Oh ya, mungkinkah
akhirat kelak hanya akan berisikan satu kisah yang sama dan tak berujung. Syurga
dengan kisah bahagianya dan neraka dengan kisah penuh derita. Entah, mungkin
aku berfikir dunia ini memiliki daya tariknya sendiri dengan kersemerautan
ragam kisah yang berujung tentunya.
Pagi ini kuawali hari dengan membaca
tulisan salah satu dosen ku, pak Hassanudin. Kurangnya pehaman akan hukum multi
akad dalam muamalah membuatku penasaran tuk menggali. Ternyata banyak sekali
macam-macam multi akad dan banyak sekali pula bintang—bintang dikepala ku
karena pussing mahaminnya. Sebelumnya ku baca tulisan di salah satu blog
dengan nama “Syariah Banget” ditegaskan setegas-tegasnya bahwa multi akad
adalah sesuatu yang haram didasarkan tiga hadits Rasulullah SAW. Nah, dalam
tulisan pak Hasan kebalikannya. Beliau juga membahas akan tiga hadits
pelarangan multi akad. Namun diberikan pula penjelasan dari al-quran dan para
fuqaha mengapa multi akad diperbolehkan. Bukan hal yang aneh lagi kaidah fiqh
yang bakal eksis ya “al ashlu fil mu’aamalati al ibahah”. Saya teringat
penjelasan bu Hafni beliau dosen Hukum Pajak. Hukum itu selain harus equal
and certain juga harus lues. Dalam artian hukum tidak boleh kaku sehingga
mengekang untuk berinovasi. Oleh karena itu dalam Islam dilegal kan yang
namanya Ijtihad. Sebagaimana dalam hadits terkenal tentang percakapan
Rasulullah SAW dengan Mu’adz bin Jabal.
Karena mengantuk saya tidur sampai-sampai kelewatan
meski sudah berpakaian rapih tuk berangkat kuliah jam sembilan. Saat bangun saya
lihat sudah jam sepuluh. Tapi, karena mata kuliah jam sembilan memang hanya
absen saja dan memang dibolehkan tidak hadir, jadi saya tenang. Hari ini, hari
Kartini. Saya baru keingetan karena denger dialog di RRI. Maklum saya suka lupa
tanggal. Akhirnya saya iseng lihat biografi kartini dan baca e-book “Habis
Gelap Terbitlah Terang”. So, this is the first time i read this book. Sudah sethuaa
ini????!!! Ya Allah. Buku yang berisikan kumpulan surat kartini tuk teman
penanya. Hmm..actually I get many information about the culture of Java and one
of that’s culture I ever did it. Beberapa bagaian yang saya ingat, seperti
pandangan Kartini tentang mempelajari al-Quran without understand with mean. Karena
memang tidak ada penerjemahan al-Quran ke dalam bahasa Melayu. Jadi kebanyakan
baca ya baca aja. Selain itu saya baru tahu dalam adat keraton Jawa, antara
adik dan kakak pun penghormatannya berlebihan sekali. Seperti adik tidak
diperkenankan menatap wajah kakaknya, harus duduk dibawah, permisi dengan badan
membungkuk lebih dari posisi ruku”. I think I will crazy if have that’s
culture. Bagaimana tidak bahkan anak dan orang tua juga gak boleh telalu dekat.
Pun saya tidak setuju jika ini disebut adopsi budaya dari Timur. Karena memang apa buktinya?. Kalau penghormatan
kepada orang tua dan guru, memang itu diajarkan dalam kitab-kitab, tapi gak
lebay kaya gitu. Membungkukkan badan ya hanya sekedarnya dan ucap permisi kalau
lewat, kalau berbicara yang baik. Kemudian kalau yang lebih tua di bawah maka
yang lebih muda harus ikut duduk di bawah. Tapi, kalau keduanya duduk diatas ya
ndak masalah. Gak usah pake acara yang muda jadi pindah ke bawah. Ya,
setidaknya begitu yang saya pelajari. Dan ini penting, sebagai adab juga
sebagai wujud menghargai yang lebih berilmu taupun yang lebih tua.
Bersambung..

Komentar
Posting Komentar