Nasihat diri....
Tak
terasa sudah lama sekali saya tidak melangkahkan kaki ke majelis ilmu yang
orientasinya spiritualitas. Alhamdulillah, kasih sayang Allah membawa saya
benar-benar datang ke kajian hari ini. Awalnya saya agak ngerasa “Alay” waktu
baca tema kajiannya. “wanita yang dirindukan syurga” mengingat saya sudah lama nggak ikut kajian seperti ini,
jadi feel nya nggak aja gitu masuk kajian yang temanya ngebahas “ istri
sholehah” atau “ istri idaman” pokonya yang begitu-begitulah.
Usai kelas hukum dagang, saya langsung tancap gas. Kajian
muslimahnya diadakan di teater lantai dua FEB UIN
Syarif Hidayatullah pukul 11:00-13:00. Sebelumnya saya sempat dapat
pemberitahuan bahwa yang tidak terdaftar tidak akan dapat makan siang. Agak mau
kabur gitu saya. Wkwkwk. Tapi melalui teman saya Winarti, Allah merubah niat
saya yang mau pulang ke kosan tuk jemur pakaian jadi tetap berangkat kajian. Dan
ternyata dia sama saja dengan saya. Karena belum sarapan, ngeliat kotak makanan jadi mupeng. ('---') Astaghfirullahal’azhim taubat..taubat.
Saya
tidak tahu siapa ustadzah Halimah al-Idrus, bahkan saking nggak antusiasnya
saya kira beliau laki-laki karena saya nggak teliti lihat nama beliau (Maafkan
saya ustadzah). Seorang sosok wanita
tirus nan jelita mengisi kajian kali ini. Kajian muslimah pertama untuk saya.
Pembawaannya yang agak kebetawian mengingatkan saya dengan ustadz Yusuf
Mansyur, salah satu guru favorit saya. Beliau lulusan universitas di Yaman, dan
logat bicaranya dalam melafalkan al-Qur’an khas sekali juga fasih, membuat saya
senang mendengarnya.
Ada
satu kisah yang beliau sampaikan sebagai pembuka. Dahulu ada seorang pemuda
yang di “toyor” bahasa indonesianya apa ya? Jadi, pemuda itu ditoyor sayyidina
umar karena ingin sekali memperlihatkan pada khalayak ramai bahwa ia adalah
ahli ibadah. Sayyidina Umar berkata sambil menyentuh dadanya: Attaqwaa haa
huna. Hal ini berkaitan juga dengan (maaf) tanda hitam di jidat. Suatu hari
suami ustadzah Halimah keluar kota bersama seorang habib. Sepanjang perjalanan
dipakai sedikit untuk tidur dan lainnya tuk mengerjakan sholat. Satu kisah lagi
saat berhaji, ustadzah Halimah bersama seorang nenek bernama Khadijah. Sang
nenek inipun ahli sholat, saat sekamar dengan nenek Khadijah ustadzah Halimah melihat sepanjang malam sang
nenek mengerjakan sholat. Satu lagi fakta tentang kedua hamba Allah yang ahli
sholat tersebut, yakni keduanya tidak memiliki tanda hitam di dahinya. Jadi
tanda hitam jidat itu, gara-gara apa ya? Hehehe. Tanda seorang ahli sujud itu
ada di wajahnya sebagaimana firman Allah “siimaahum fii wujuuhihim min atsaris
sujuud” dimana seorang ahli sujud wajahnya akan bercahaya dan apabila orang
melihat wajahnya akan merasa senang. Ada beberapa poin lain yang saya catat
dari beliau. Mudah-mudahan bermanfaat juga tuk teman-teman yang membaca catatan
blog ini.
Alladziina
yat tabi’uunal qoula fayat tabi’uunal ahsanah “orang-orang
yang mengikuti suatu perkataan dan mengikuti suatu kebaikan”. Begitulah seorang
mu’min seharusnya. Mendengar segala perkataan, ambil yang baik lalu amalkan
(kalau saya salah faham mohon diluruskan). Ibadah terbagi dalam empat, yakni:
1.
Ibadah
Spiritual: ibadah yang tidak terlihat, bentuknya adalah taqwa dalam hati dan
suatu keyakinan kepada Allah Subhanahu wata’alaa. Misalnya jikalau kita
melakukan aktifitas dengan niat karena Allah, maka itu adalah ibadah spiritual.
2.
Ibadah
Ritual: ibadah yang terlihat atau dilakukan oleh fisik. Seperti sholat,
puasa,haji, menuntut ilmu dll. Namun niat tuk
melakukan hal-hal tersebut, kekhusyuan dan keikhlasan dalam menjalankannya itu
termasuk dalam ibadah spiritual.
3.
Ibadah
Sosial, ada yang menarik ketika membahas contoh ibadah sosial ini. Saya
teringat jawaban beliau atas pertanyaan seorang teman, dimana ia menanyakan
apakah menutup aurat itu ibadah spiritual, ritual atau sosial? Beliau menjawab:
niat kita menutup aurat karena suatu perintah Allah adalah ibadah spiritual,
menutup auratnya adalah ibadah ritual dan menutup aurat untuk menghindari
muslim yang lain dari dosa adalah ibadah sosial. Saya serasa lagi mengaitkan
kaidah ushul, kaidah fiqh dan fiqh. Hehehe
4. Ibadah moral:
tentu berkaitan dengan akhlaq. Kalau akhlaq buruk padahal ibadah ritualnya rajin maka harus
dicek ritualnya sudah baik atau belum. Karena jikalau ritualnya baik akan
berimplikasi pada akhlaq yang semakin membaik.
Satu
kisah tentang keluarga sayyidina Ali inipun bisa menjadi contoh ibadah sosial.
Suatu hari saat sayyid Hasan Husain sakit, keluarga sayyid Ali bernadzar akan
berpuasa tiga hari berturut-turut. Keluarga sayyid Ali adalah keluarga sederhana,
yang mengusahakan makanan hanya tuk hari itu. Jadi bekerja kemudian dapat
sejumlah uang sekiranya cukup tuk hari itu lalu pulang. Nah, setelah uang itu
dibelikan bahan makanan dan diolah sayyid Fathimah untuk berbuka puasa
datanglah orang-orang miskin yang sedang kelaparan. Lalu sayyid Ali dan
Sayyidah Fatmah berkata kepada anak-anaknya “ anak-anak, tak apa ya makanannya
kita berikan kepada mereka”. (intermezzo dari ustadzah Halimah: mungkin kalau
anak-anak zaman sekarang akan jawab “ mamah, aku laporin ya ke KOMNAS HAM!
Karena ngebiarin kami kelaparan” :D ustadzah mirip banget dah sama ustadz Yusuf
Mansyur) lanjut hari kedua, sama seperti itu namun yang datang adalah anak
yatim. Disedekahkan lagi makanan-makanan tersebut sampai habis.
Hari ketiga setelah
berbuka hanya dengan air putih. Sayyid Hasan, Husain, Zainab dan Ruqoyyah sudah
nunggu aja didepan meja makan karena sudah lapar sekali. Namun, sekali lagi
Allah menguji kesabaran keluarga tersebut dengan datangnya mantan tawanan
perang yang sedang kelaparan bahkan sampai pingsan. Diberikan lagilah makanan
berbuka tersebut. Subhanaallah… namun, sayyid Ali dan keluarga tak menceritakan
itu kepada siapapun. Setelah kejadian itu Allah mengutus malaikat Jibril kepada
Rasulullah alaihis sholatu was salam untuk memberikan kabar gembira atas
prestasi keluarga Ali sang menantu. Bahkan pada saat itu Rasulullah sendiri
tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hingga kisah ini menjadi sebab turunnya
ayat “wa yuth’imunath tho’aama ‘alaa hub bihi miskiinaw wayatiimaw wa
asiiroo” orang-orang yang beriman yang memberikan makanan yang disukainya
kepada orang miskin, yatim dan tawanan perang. Subhanallah…mendengar kisah ini
rasanya saya seperti tertampar. Satu kata move on ! dari ke koretan.
Menyinggung
ibadah ritual tentang kekhusyuan dalam sholat. Nah, sholat khusyu menurut
gurunya ustadzah Halimah adalah “ awwaluhuu takliif, wa aakhiruhu ta’liif”
awalnya dipaksakan (khusyu’) kemudian dibiasakan. Gambarannya seperti ini:
kalau sedang sholat, biasanya pikiran kita jalan-jalan kemana aja. Segalanya
dipikirin. Maka kalau kita sudah sadar “inget lagi sholat harus khusyu’ gak
boleh pikir yang lain-lain” maka setelah itu harus dipaksakan (diusahakan
dengan benar-benar) untuk tidak memikirkan hal-hal diluar sholat hingga salam.
Kira-kira begitu yang saya fahami. :)
Bagian
ini termasuk favorit saya, kala ustadzah menyampaikan bahwa Allah menilai kita
pada keadaan kita sekarang. Jadi, jikalau dahulu kita adalah seorang yang
sering melakukan apa yang dilarang Nya kemudian bertaubat secara
sungguh-sungguh maka yang dilihat Allah adalah keadaan kita setelah taubat.
Begitu juga sebaliknya. :) “Al umuuru bi khowaatimiha”. Maha besar Allah
dengan segala kasih sayang Nya.
Saya
menyukai semua kisah yang ustadzah Halimah sampaikan, apalagi kisah yang satu
ini. Kala ustadzah Halimah dikunjungi seorang temannya dan sesosok ibu-ibu yang
ingin berterimakasih karena berkat buku “Bidadari Bumi” yang ditulisnya ibu itu
bisa tidur. Dengan ekspresi khas ustadzah Halimah, “hm..bisa tidur ya bu?”
sambil setengah heran karena merasa bukunya bagaikan obat bagi orang insomnia :D.
“Ustadzah, bagi saya ini adalah hal yang sangat berarti sekali” terang ibu itu,
kemudian menceritakan kisahnya.
Sudah
lima belas tahun saya tidak bisa tidur. Saya memiliki dua anak, yang terbesar
sudah kelas lima SD dan yang kecil baru berumur satu tahun. Suatu malam saya
meminta izin pada suami untuk datang reuni. Tapi, suami saya tidak mengizinkan.
Nanti anak-anak bagaimana, begitu tutur suami saya. “Memang apa susahnya sih gantian
dulu, sekali-kali kamu jagain anak-anak” begitu jawab saya, akhirnya suami saya
mengizinkan walau dengan keterpaksaan. Lalu saya berangkat dengan menyetir
mobil sendiri. Sekitar jam 10-an, sudah ada beberapa teman saya yang pulang. Dalam
hati saya mau pulang juga, tapi saya berubah fikiran “biarlah, biar suami saya
ngerasain gimana susahnya nidurin anak-anak”. Saat suasana tempat reuni sudah
mulai sepi, saya baru pulang. Betapa kagetnya saya saat saya sampai didepan
rumah, saya lihat ada pemadam kebakaran dan tim medis. Saya dapati suami dan
anak terbesar saya meninggal dalam kebakaran tersebut. Anak saya yang paling
kecil selamat namun dalam keadaan koma dan fisiknya menjadi cacat. Saat itu
pula saya kehilang kesadaran saya.
Rasanya
saya tidak mau bangun dari pingsan. Hati saya bertanya sekeras-kerasnya penuh
amarah kepada Allah “apa dosa saya?! Apa salah saya?! Kenapa Engkau perlakukan
saya seperti ini?!”. Setelah kejadian itu setiap malam saya tidak bisa tidur
kecuali dengan bantuan obat tidur. Berbagai acara motivasi, hypnoterapi saya
kunjungi tetap saja saya tidak bisa tidur. Saya mengisi hari-hari saya dengan
bersedekah, sholat, puasa, saya tunaikan haji dan umroh, namun saya tetap
gelisah. Perasaan terus menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan Allah tetap
ada dalam hati saya.
Saya
seorang manager dan tinggal disebuah apartemen. Anak saya adalah anak yang baik
juga cerdas. Dia begitu perhatian sama saya. Sering menanyakan kabar saya,
mengingatkan saya makan, dia juga sering sms kalau mau tidur duluan sementara
saya belum pulang kerja “mamah, aku izin tidur duluan ya. Love you”. Namun karena
malu dengan keadaannya, saya putuskan dia untuk home schooling. Padahal kalau
mau, bisa saja dia menyalahkan saya atas kejadian yang menimpanya. Namun dia tidak pernah melakukan
hal itu. Justru sebaliknya dia sangat menyayangi saya.
Hingga
suatu malam, saat saya pulang kerja saya cek surat-surat. Surat tagihan
listrik, tagihan telepon, ada satu kado dari teman saya yang ternyata isinya
sebuah buku. Saya lihat judul dan penulisnya “Bidadari Bumi, Halimah
al-Idrus? Siapa itu? Ah, Penulisnya gak terkenal”. Akhirnya saya putuskan tuk
nonton TV dan saya abaikan buku itu. Tapi, acara TV malam itu nggak ada yang
bagus, saya move on buka laptop searching. Tapi, juga nggak saya dapati hal
yang menarik hati saya. Akhirnya saya ambil buku hadiah teman saya itu,lalu saya coba baca. Baca halaman awal membuat saya
tidak mau berhenti membaca bukunya. Sampai saya membaca kisah yang ke lima. Kisah
Wanita di Bis.
***
Suatu
hari saya (Ustadzah Halimah) dalam sebuah perjalanan menggunakan bis. Saya dapati
seorang nenek menyetop bis yang sama dengan saya. Hanya ada saya, nenek
tersebut dan sopir. “ Assalamu’alaikum hubabah?” di Yaman hubabah adalah
panggilan tuk seorang nenek. Nenek tersebut hanya menjawab salam saya, tanpa
ada keinginan melanjutkan percakapan. Akhirnya saya putuskan untuk memandangi
Zambal dan Furait yang terdapat makam-makam waliyullah dari balik kaca bis. Tak
lama, saya terbangun dari lamunan saya. Sang sopir mengerem mendadak karena ada
anak kecil yang menyeberang. Saya hampir terpental dari kursi karena kuatnya
goncangan bis. Namun, saya kaget bukan kepalang melihat sang nenek yang duduk
dua baris didepan saya kepalanya terbentur besi terpelanting ke depan pintu bis dan
karena ia mencoba mempertahankan diri ia memegang gagang besi yang ternyata
besi tersebut licin dan ada tonjolan besi sehingga saat tangannya turun, tangannya
tertusuk besi tersebut. Darahnya bercucuran karena melepas tangannya tonjolan
besi tersebut. Saya segera menghampirinya, membantu sang nenek. Namun, hal yang
sangat luar biasa. Saya dapati sang nenek tersenyum dan mengucap “Alhamdulillah,
Rabbun Karim” saya benar-benar heran, nenek ini malah tersenyum dan memuji
Allah. Saat saya coba bertanya keadaannya, ia menjawab “saya tidak apa-apa nak,
Allah sedang rindu dengan saya. Allah selalu memberikan hamba Nya yang terbaik”
begitu tutur nenek tersebut.
***
Usai
membaca kisah ustadzah tersebut, saya langsung menghampiri anak saya yang
sedang tidur. Saya peluk dia erat-erat sambil menangis. “maafkan mamah nak,
maafkan mamah yang sudah banyak salah sama kamu, maafkan mamah”. Anak saya
berbisik di telinga saya “ Ya Allah, terimakasih Engkau telah mengabulkan do’a
hamba”. Saya baru sadar anak saya telah berjuang keras untuk menerima keadaanya.
Justru ia yang lebih berat tekanannya, namun ia bisa ikhlash.
Saya
bersedekah, sholat, puasa, ibadah-ibadah ritual saya kerjakan namun saya kosong dalam ibadah
spiritual. Saya terus-terusan menyalahkan Allah, padahal Allah telah
memberikan saya begitu banyak kenikmatan. Saya terfokus dengan pintu yang
tertutup dan mengabaikan pintu-pintu yang terbuka. Itulah yang membuat hidup
saya kosong. Jiwa saya tidak tenang.
Setelah
menemui anak saya, saya melanjutkan membaca bukunya. Saya tidak tahu pada
halaman ke berapa, saya tertidur. Itulah tidur pertama saya setelah lima belas
tahun tanpa bantuan obat.
Rabb yang maha
membolak-balikkan hati
Tetapkanlah hati
kami dalam keimanan kepada Mu
Serta ketaatan
kepada Mu. Aamiin
Terimakasih tuk
ustadzah Halimah dan kakak-kakak yang sudah mengadakan kajian ini. Terimakasih
banyak. Jazakumullah khoiron. :)
Bagi teman-teman yang ingin mencatat bagian ayat-nya bisa dilihat disini..mohon koreksinya apabila ada penulisan saya yang salah. Terimakasih ^^
Bagi teman-teman yang ingin mencatat bagian ayat-nya bisa dilihat disini..mohon koreksinya apabila ada penulisan saya yang salah. Terimakasih ^^


Komentar
Posting Komentar