di Satu Malam



Satu hal yang sedang saya coba pahami yaitu, kenyataan bahwa yang memilihkan orang tua untuk kita adalah Allah Swt semata. Dalam artian kita tak punya andil sama sekali dalam proses penentuannya. Bagaimana dengan anak? Wah, kalau anak kita punya andil besar. Oke, kali ini saya hanya ingin sedikit bahas anak dan orang tua.

Cak Nun pernah nulis, kira-kira gini: kebanyakan orang tua itu tak mau mendengar. Hmm..mungkin karena merasa sudah hidup lebih lama, merasa lebih tua, merasa lebih tau, ya, pokoknya ‘merasa’. Sangat sulit sekali kalau mau mengingatkan orang tua, apalagi saat situasi sangat genting. Maksud baik pun jadi gak keliatan baik. Huft. Jurus ampuh yang butuh kesabaran adalah do’a. Karena jika bicara pun hanya, pokoe bukan jalan yang lurus tuk ditempuh. (hal ini bisa terjadi , karena watak orang tua beda-beda dan kompleks).

Ada orang tua merasa bagaikan Tuhan? Ada. Ada anak merasa bagaikan raja?Ada. samapai lupa daratan kalo mau sesuatu. Merasa jadi korban? Ada. Sampai-sampai menyalahkan segala hal pada orang tuanya. Misalnya masalah, kenapa ia dilahirkan jadi orang tua tersebut. Bagi sebagian anak ada yang cuma bisa bengong sambil gigi jari dan nyess di hati, kalo liat satu keluarga yang orang tuanya can be idol, hero and friends


Faktanya, setiap keluarga pasti punya masalahnya masing-masing. Cuma cara menyelesaikannya ini yang menentukan masalahnya itu bakal selesai atau tambah runyam. Anak ngehina orang tuanya? Ada. Orang tua ngehina anaknya? Ada. Jadi, ada keluarga dimana anak dan orang tua saling hina, saling ngutuk. Wow!!! Saya rasa itu kenyataan yang lebih menjijikan dan mengerikan daripada kenyataan tentang pembuat vaksin palsu atau tentang kasus pembunuhan. Gimana nggak? Kasus begitu gimana midananya coba?.

Saya sering merasa iri, dengan anak-anak yang bisa sangat tulus berbakti pada orang tuanya. Iri benar-benar iri. Betapa beruntungnya anak itu dianugerahi akhlak yang luar biasa indah. Saya pun sering merasa iri dengan anak-anak yang dianugerahi orang tua yang gagah, bijaksana, lembut, penuh dengan teladan. Betapa indahnya suatu keluarga yang dipimpin oleh dua captain yang kece badai. Hhe. Boleh nggak ya iri sama beginian? >.<

Malam ini saya memperlihatkan hasil ujian saya semester ini pada ibu saya. Untuk pertama kalinya, meski respon ibu tak spesial. Tapi, dalamnya lautkan bisa diduga, hati orang siapa yang tahu?. Bagi saya, Allah tak mungkin salah. Termasuk memilihkan orang tua bagi saya. Saya memang egois, banyak menuntut pada ibu. Terutama perhatian. Tapi, saya nggak belajar lebih giat tuk perhatian sama ibu. Masih saja tergoda dengan keinginan nafsu yang ngajak melakukan sesuatu sesuka hati.

Akhirnya……
Ramainya langit, mungkin tak seramai hati-ku
Apa yang langit sembunyikan
Apa yang hati ini sembunyikan
Ingin ku seperti langit
Bisa menunjukkan apa yang ia punya
Ku ingin menunjukkan apa yang ku punya dalam hati ini
Betapa senangnya saat ibu memanggilku dengan lembut
Mungkin akan ada masa kala hati ini saling mengerti
Mencari arti dalam satu keluarga
Ku ingin bangun diriku
Menjadi teguh,kokoh, indah
Bahagiakanmu,
Bekal dunia dan akhirat ku.
kemudian...
Menjadi ibu dan Istri yang diridhoi-Nya
Kubayangkan wajah-wajah itu
Wajah bagian diriku
Yang tumbuh dengan senyum dan kepercayaan
Penuh semangat membangun diri,
menjadi pribadi yang Allah Cintai.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan dan Persamaan Pemikiran Tokoh Ekonomi Islam Kontemporer

kumpulan lagu anak (Islami)

Kumpulan Lagu Tajwid