Kasih Sayang Terhadap Binatang
Saya mencoba mengingat, cerita
sebenarnya yang menyebabkan saya suka mengajak binatang berbicara. Seingat saya,
saat saya kecil saya pernah membaca cerita seorang sahabat Rosulullah saw, yang
berada di dalam hutan. Lalu ia berkata kepada hewan-hewan atas nama Allah,
supaya tidak mengganggu ia dan pasukannya.
Hari ini lagi iseng baca buku yang
sudah empat tahun dicari-cari, saya ketemu dengan kisah tersebut. Meski seingat
saya, sumber buku pertama saya membaca kisah tersebut bukanlah buku ini. Tapi,
kurang lebih isinya sama. Yuk, sama-sama kita belajar dari kisah tersebut.
Sesudah menaklukkan Tunisia,
panglima tertinggi pasukan Islam di Afrika Utara, Uqbah bin Nafi’ Rodiallahu
anhu memerintahkan kepada pasukannya untuk membangun sebuah kota disana, yang
kemudian mereka namakan kota Kairun.
Setelah pasukan itu meninjau lokasi
tempat yang dimaksud, mereka melapor bahwa di tempat itu banyak ditumbuhi
alang-alang yang tinggi lagi lebat, juga dihuni oleh banyak binatang buas,
antara lain: singa, serigala, dan ular.
Uqbah bin Nafi’ pergi sendiri ke
tempat itu. Dia berdiri di tepi padang alang-alang seraya berkata, “ Hai! Jama’ah
singa, serigala, ular, dan semua kawanan hewan yang ada di daerah ini! Kami
adalah para sahabat Rosululah saw. Kami akan membangun kota di daerah ini. Kami
berharap kalian segera meninggalkan daerah ini denga aman dan damai.”
Para prajurit yang menyaksikan
peristiwa itu terheran-heran mengapa panglima mereka berbicara dengan
binatang-binatang buas. Namun tidak lama kemudian, binatang-binatang tersebut
keluar dari persembunyiannya dan hijrah ke tempat lain. Dalam kesempatan tersebut,
ada seorang prajurit yang mengusulkan untuk membunuh binatang-binatang
tersebut.
Uqbah bin Nafi’ sangat marah
mendengar usulan tersebut. Ia berkata, “Bagaimana kalian ini! Kalau kita
membunuh mereka berarti kita telah melanggar janji kita kepada Allah ta’ala.
Bukankah kita telah berjanji memberikan keamanan dan kedamaian kepad
abinatang-binatang itu? Kenapa kita melanggar janji kita sendiri?
Dari kisah tersebut, saya teringat
kasus-kasus berlebel pembangunan dengan menggusur tanpa aturan. Jauh dari
nilai-nilai kemanusiaan. Menggusur tempat binatang saja harus pakai etika dan
jaminan keamanan dan kedamaian mereka. Apalagi manusia?.

Komentar
Posting Komentar