Liburan kali ini agak berbeda, karena saya memiliki jadwal mengaji di lebak bulus setiap jum’at hingga minggu. Sore ini saya memutuskan pulang ke rumah. Berdiri tepat di bawah bayangan tiang listrik yang berdekatan dengan tiang pemberhentian bus. Meski sebenarnya, bus tidak akan tepat berhenti disana, karena terhalang oleh angkot-angkot nakal. Itu yang sering diucapkan oleh sopir dan kondektur bus biru. Mereka mungkin bisa dibilang berprasangka, tapi saya pun mengamini prasangka itu. Bagi para sopir angkot hak mereka harus lebih didahului dari pada hak pengendara lain. Setidaknya seperti itulah yang terlihat. Meski saya mencoba memahami mereka memiliki kewajiban setor, tak elok bila dengan hal itu membenarkan kenakalan mereka melanggar lalu lintas. Pagi, siang, maupun sore sama. Pemandangan lamunan abang becak, OPTIC yang sepi, jajaran tukang ojek, klakson angkot yang seolah memanggil, selalu menemani saya menunggu bus biru. Terkadang saya memandangi abang-abang becak, kada...